Hansel Dan Grethel Yang Cerdik

Dikisahkan, ada seorang penebang kayu miskin yang memiliki dua anak, seorang laki-laki bernama Hansel dan seorang gadis bernama Gretel. Sayangnya, ibu mereka telah meninggal dunia saat mereka masih sangat kecil, dan mereka merasa sangat sedih tanpa kehadirannya.

Si penebang kayu memutuskan untuk menikah lagi, keluarga mereka sangat miskin sehingga mereka hampir tidak punya cukup makanan. Suatu hari, penebang kayu dan istrinya berdiskusi tentang bagaimana mereka akan bertahan hidup dengan persediaan makanan yang minim. Penebang kayu khawatir tidak dapat memberi makan kedua anaknya, jadi istrinya menyarankan agar mereka membawa anak-anak ke hutan dan meninggalkan mereka di sana.

Penebang kayu menolak, tetapi istrinya mengatakan bahwa jika mereka tidak menyingkirkan anak-anak, keempatnya akan mati kelaparan. Anak-anak, Hansel dan Gretel, mendengar seluruh percakapan tersebut dan Gretel mulai menangis. Hansel meyakinkannya bahwa dia akan membuat rencana untuk menyelamatkan mereka. Dia keluar dan mengumpulkan kerikil putih.

Keesokan paginya, keluarga itu pergi ke hutan yang luas dan berbahaya, dan Hansel mulai menjatuhkan kerikil putih sepanjang jalan mereka. Penebang kayu membuat api dan memberitahu anak-anak untuk duduk di dekatnya, sementara dia dan istrinya pergi menebang pohon. Anak-anak yang lelah pun tertidur, dan terbangun setelah hari sudah gelap. Hansel menunjukkan kepada Gretel bagaimana mereka bisa mengikuti kerikil putih untuk kembali ke rumah, dan anak-anak tiba di rumah dengan selamat, membuat ayah mereka senang dan istrinya kecewa.

Kelaparan semakin parah di daerah itu, dan tidak lama kemudian istrinya memutuskan bahwa sudah waktunya untuk mencoba meninggalkan anak-anak di hutan lagi. Kali ini, Hansel tidak bisa keluar untuk mengumpulkan kerikil karena istri penebang kayu mengunci pintu. Keesokan paginya, keluarga berangkat lagi, dan Hansel menggunakan remah roti untuk menandai jalan. Sekali lagi, anak-anak tertidur di dekat api, kali ini lebih dalam di hutan, dan lagi-lagi mereka terbangun mendapati orang tua mereka sudah pergi. Burung-burung telah memakan semua remah roti, sehingga anak-anak mulai berjalan tanpa tujuan dalam upaya menemukan rumah mereka.

Akhirnya, saat mereka hampir mati kelaparan, mereka menemukan sebuah rumah yang terbuat dari roti, kue, dan gula, dan mulai memakannya. Seorang wanita tua keluar dari rumah dan memberitahu anak-anak yang ketakutan, bahwa mereka bisa tinggal bersamanya. Dia menyiapkan makanan untuk mereka, dan menidurkan mereka di tempat tidur yang nyaman. Keesokan paginya, niatnya menjadi jelas, dan dia mengunci Hansel di sebuah gudang dan memberitahu Gretel bahwa dia akan memasak untuk Hansel agar dapay menambah berat badannya. Saat Hansel sudah cukup gemuk, penyihir itu akan memasaknya dan memakannya. Setiap hari, penyihir memeriksa jari Hansel untuk melihat apakah sudah cukup gemuk.

Penyihir memiliki penglihatan yang buruk. Setiap malam, dia pergi ke kandang Hansel, mengambil tangan Hansel, dan menyentuh jarinya untuk melihat apakah cukup tebal untuk digoreng.

Hansel yang cerdik berpikir untuk membuat rencana, setiap hari Hansel mengeluarkan tulang dari gudang untuk menipu penyihir agar mengira dia masih sangat kurus. Jadi, penyihir merasa bahwa Hansel tidak bertambah berat badan dan menyiapkan makanan baru setiap hari.

Namun suatu hari, Hansel tidak dapat memberikan tulang itu, jadi penyihir menangkap jarinya. Penyihir itu pun berkata, bahwa sekarang Hansel sudah Gemuk. Hari ini dia dapat memangganhnya dan makan makanan yang benar-benar enak.

Dia meminta Gretel untuk memanaskan oven, karena dia akan memanggang dan memakan Hansel. Tapi saat penyihir membungkuk untuk memeriksa suhu oven, Gretel mendorongnya dari belakang dan mengunci pintu oven.

Gretel menyelamatkan Hansel, dan mereka mengisi saku mereka dengan permata milik penyihir. Akhirnya, mereka berhasil menemukan jalan pulang. Saat mereka sampai di rumah, ibu tiri mereka telah meninggal dan ayah mereka menyambut anak-anaknya dengan bahagia. Dengan permata yang dibawa dari penyihir itu, kini keluarga itu tidak pernah lagi kekurangan atau kelaparan lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *